Selain dari penggagasan Islamisasi ilmu, mungkin kita harus juga tidak mengesampingkan lokalisasi ilmu. Kalau sudah semua displin dan cabang ilmu kita tulis menggunapakai bahasa Inggeris, maka tinggal apa lagi sebab untuk memperkasa bahasa Melayu jika semangat nya sahaja yang tinggal tapi jasadnya sudah mereput.
Saturday, 16 November 2013
Saturday, 12 October 2013
Orang Kecil Orang Besar
Kita hidup dalam dunia di mana orang yang kesempitan hingga terpaksa mencuri RM2 dipenjara 2 tahun, sedang niagawan dan kuasawan di pelamin kuasa mengeruk berbilion duit rakyat sedikit pun tidak boleh dibicarakan.
Teringat aku akan puisi A. Mustofa Bisri (Gus Mus) tentang orang kecil dan orang besar.
Orang Kecil Orang Besar oleh Gus Mus
Suatu hari yang tak cerah
Di dalam rumah yang gerah
Seorang anak yang lugu
Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu
Ayahnya berkata:
Anakku,
Kau sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!
“Orang kecil kecil perannya kecil perolehannya,” tambah si ibu
“Ya,” lanjut ayahnya
Orang kecil sangat kecil bagiannya, anak kecil masih mendingan
Rengek Ayah dan Ibu berganti-ganti menasehati:
“Ingat, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil bila ikhlas diperas
Jika diam ditikam
Jika protes dikentes
Jika usil dibedil,”
“Orang kecil jika hidup dipersoalkan
Jika mati tak dipersoalkannya, didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan
Suaranya tak suara,”
Sang Ibu wanti-wanti:
“Betul jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil bila jujur ditipu
Jika menipu dijur
Jika bekerja digangguin
Jika mengganggu dikerjain,”
“Lebih baik jadi orang besar
Bagiannya selalu besar.”
“Orang besar jujur-tak jujur makmur
Benar-tak benar dibenarkan
Lalim-tak lalim dibiarkan.”
“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakannya saja.”
“Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang besar kurang ajar dibilang berani.”
“Orang kecil mempertahankan hak disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak disebut pendekar.”
Si anak terus diam tak berkata-kata
Namun dalam dirinya bertanya-tanya:
“Anak kecil bisa menjadi besar
Tapi mungkinkah orang kecil
Menjadi orang besar?”
Besok entah sampai kapan
si anak terus mencoret-coret
dinding kalbunya sendiri:
“Orang kecil??? Orang besar!!!”
(Kumpulan Album Sajak Sajak A. Mustofa Bisri)
Di dalam rumah yang gerah
Seorang anak yang lugu
Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu
Ayahnya berkata:
Anakku,
Kau sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!
“Orang kecil kecil perannya kecil perolehannya,” tambah si ibu
“Ya,” lanjut ayahnya
Orang kecil sangat kecil bagiannya, anak kecil masih mendingan
Rengek Ayah dan Ibu berganti-ganti menasehati:
“Ingat, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil bila ikhlas diperas
Jika diam ditikam
Jika protes dikentes
Jika usil dibedil,”
“Orang kecil jika hidup dipersoalkan
Jika mati tak dipersoalkannya, didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan
Suaranya tak suara,”
Sang Ibu wanti-wanti:
“Betul jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil bila jujur ditipu
Jika menipu dijur
Jika bekerja digangguin
Jika mengganggu dikerjain,”
“Lebih baik jadi orang besar
Bagiannya selalu besar.”
“Orang besar jujur-tak jujur makmur
Benar-tak benar dibenarkan
Lalim-tak lalim dibiarkan.”
“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakannya saja.”
“Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang besar kurang ajar dibilang berani.”
“Orang kecil mempertahankan hak disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak disebut pendekar.”
Si anak terus diam tak berkata-kata
Namun dalam dirinya bertanya-tanya:
“Anak kecil bisa menjadi besar
Tapi mungkinkah orang kecil
Menjadi orang besar?”
Besok entah sampai kapan
si anak terus mencoret-coret
dinding kalbunya sendiri:
“Orang kecil??? Orang besar!!!”
(Kumpulan Album Sajak Sajak A. Mustofa Bisri)
Tuesday, 1 October 2013
IOA Workshop : Volunteers Enhancement 2013
"IOA Workshop : Volunteers Enhancement 2013" | 27 & 28 Sept 2013 (Jumaat & sabtu) | Wisma Puteri Islam, Cheras.
Topics :
1.Presenting Excellence of Islam : Knowing God Through Quran
2. Presenting Excellence of Islam : Knowing God Through His Creation
3.Methodology, discourse of dawah & Islamic propagation
4.Stage of Human Life & Proving the deeds
5.Working together towards success : Quranic physiological approach
6.Dawah Bil Hal : Dakwah To Non- Muslim
7. Volunteerism in Islamic Outreach ABIM
Topics :
1.Presenting Excellence of Islam : Knowing God Through Quran
2. Presenting Excellence of Islam : Knowing God Through His Creation
3.Methodology, discourse of dawah & Islamic propagation
4.Stage of Human Life & Proving the deeds
5.Working together towards success : Quranic physiological approach
6.Dawah Bil Hal : Dakwah To Non- Muslim
7. Volunteerism in Islamic Outreach ABIM
Islamic Outreach seminar. Semalam sehari suntuk di Cheras. Hari ini di Masjid Negara. Sesi kedua hari ini, Quranic Psychological Approach yang dikongsikan oleh Ust Fazrul Ismail. Lebih kurang 36 peserta dari lebih 10 negara.
Monday, 30 September 2013
Berziarah ke UIAM
15 September 2013
Bersama saudara Ameer Al Hakeem, mahasiswa jurusan BEng di UIAM. Sudah lama mengenal si dia, dari zaman malakat92 lagi. Akhirnya pada tanggal 15 September 2013, sempat bersua dan bersarapan bersama di kafe UIAM kampus Gombak.

Bersama saudara Ameer Al Hakeem, mahasiswa jurusan BEng di UIAM. Sudah lama mengenal si dia, dari zaman malakat92 lagi. Akhirnya pada tanggal 15 September 2013, sempat bersua dan bersarapan bersama di kafe UIAM kampus Gombak.

Prof Naquib Al Attas CASIS Saturday Night Lecture
14 September 2013 - Prof Naquib Al Attas CASIS Saturday Night Lecture. Syarahan yang bertajuk, Faham Bangsa dan Kebangsaan.

Bersama Prof Naquib Al Attas.

Yang dinantikan sudah tiba. Sedia mendengar lecture Prof Naquib Al Attas on faham bangsa dan kebangsaan.
Wednesday, 11 September 2013
Ziarah Mufti Singapura, Dr. Fatris Bakaram
11 Sept 2013 - Saya bersama En. Izwan Suhadak dan Abg Kamarul Azami, YDP ABIM Tg Karang dan YDP ABIM Kuala Selangor telah bertemu dengan Mufti Singapura, Dr. Fatris Bakaram semasa beliau ke Tg Karang atas tujuan bercuti di Vila Firefly, Sg Gulang Gulang, Tg Karang.


Friday, 30 August 2013
Perutusan Hari Kemerdekaan Ke 56
Happy 56th Independence Day to all Malaysians. Some dudes surely asked, "are we really in the state of being 'emancipated'? What is 'Merdeka' anyway? Sounds like Mau duit kah."
Maybe these intrepid words of Rabie bi Amir to Rustum, the Persian Commander could answer to some of your ever-mounting doubt on what is the true meaning of Merdeka or Independence or Emancipation or Liberation.
Hadrat Rabi' bin `Amir entered upon Rustam, the leader of Persia, who had 280,000 soldiers under him.
Rustum addressed him with arrogance of one who has power,
"What brings you here?
Rabi' was wearing a torn robe and had with him a spear and an old horse.
Rustam told him laughingly, while his ministers and companions were sitting with him: "You came to conquer the world with this spear, an old horse and a torn robe?"
So Rabi` ibn `Amir responded to him, confident in Allah's help:
“God has sent us to emancipate human beings from worshiping humans to worshiping the humans Lord, to emancipate human beings from tyranny of beliefs to the justice of Islam and from the narrowness of the present life to vastness of the present and hereafter."
Later, Sayyiduna Sa`d bin Abi Waqqas entered this land victoriously.
Such is the end that befell those who did not know Allah, who did not obey his orders, nor shunned what He forbade.
Thursday, 29 August 2013
Wednesday, 28 August 2013
Oh... Demi Masa
Bersara bukan bermakna berhenti menjadi manusia, yang tidak perlu kepada makan dan minumnya, atau terlepas dari tanggungjawab dalam menyara. Lagi lagi dalam keluarga yang tak berapa senang hidupnya.
Sedang Ahlul Falsafah suka peningkan kepala 'tabula rasa' mereka dengan memikir tentang"aku ni wujud ke tidak", seharus kita tanya sejujur rasa sama relung hati yang terdalam, apa.. apa kewujudan kita ini cukup memberi makna kepada kewujudan yang lain? Atau cuma satu kewujudan yang sia sia?
Memang tidaklah wajar menilai manusia atas dasar Functional and Productivity Approach, tetapi kewujudan yang reluctant untuk berfungsi adalah kewujudan yang tidak memberi erti.
Seharusnya kita tidak perlu terlebih bersungguh belajar melambatkan masa dengan bergerak melebihi kecepatan cahaya atau berguru dengan Michio Kaku menghadam falsafah Peledingan Masa nya, yang kita perlu hanya menghargai masa yang ada, biar padan dengan peranan yang kita pegang.
oh.. Demi Masa..
Sedang Ahlul Falsafah suka peningkan kepala 'tabula rasa' mereka dengan memikir tentang"aku ni wujud ke tidak", seharus kita tanya sejujur rasa sama relung hati yang terdalam, apa.. apa kewujudan kita ini cukup memberi makna kepada kewujudan yang lain? Atau cuma satu kewujudan yang sia sia?
Memang tidaklah wajar menilai manusia atas dasar Functional and Productivity Approach, tetapi kewujudan yang reluctant untuk berfungsi adalah kewujudan yang tidak memberi erti.
Seharusnya kita tidak perlu terlebih bersungguh belajar melambatkan masa dengan bergerak melebihi kecepatan cahaya atau berguru dengan Michio Kaku menghadam falsafah Peledingan Masa nya, yang kita perlu hanya menghargai masa yang ada, biar padan dengan peranan yang kita pegang.
oh.. Demi Masa..
Apabila Buah Lagi Keras dari Paku
Semasa di Tingkatan 4 dulu, entah macam mana saya boleh terbuka cerita pasal Kecairan (Liquidity) dalam pembelian aset , sedang masa itu (sampailah sekarang) tak ada tauliah pun untuk bincang tentang perihal ekonomi. Kawan saya yang bijak matematik beriya iya menidakkan saya.
"Kau ni memandai je. Mana ada term Kecairan tu. Pandai pandai je buat term sendiri". Saya cuma mampu senyum kelat dan diam ketika itu.
Baru baru ni bertemu semula dengan kawan saya itu, "eh kau sekarang buat degree apa?"
"Aku buat Accounting sekarang ni kat ..."
"Oh accounting... So dah belajar lah kecairan .. liquidity tu semua."
"Sampai sekarang kau ingat ya!"
:)
Cakap pasal Tauliah, Robert Kiyosaki ada tauliah ke nak tulis tentang Ekonomi, Real Property, Accounting, Business, Philosophy ni?
Ceriakan Wajahmu, dan Mulakan Menyapa.
23 Ogos 2013, Jumaat
Aku bosan dalam train -> Tegur orang sebelah -> Borak tentang TED Ex, aktivisme, ekonomi, Sejarah, Politik, Sosiologi dan tempat tempat menarik di UK (kerana si dia mahasiswa UK) -> Bertukar FB & berpisah di KL Sentral -> Nak call kawan supaya ambil di Gombak tapi bateri HP mati -> Tawakal yang terlalu -> Terserempak semula dengan si dia -> Minta pinjam HP -> Masalah selesai.
Mungkin inilah penangan dari bacaan buku Abbas As Sisi, At-Thariq ilal Quluub (Bagaimana Menyentuh Hati) yang cukup hebat itu. Selepas membacanya, aku pun mula beranikan diri, ceriakan diri untuk menegur orang walau siapa pun dia, walau di mana pun kami bertemu.
Dan alhamdulillah bila berdepan masalah pada kali ini, Allah titipkan orang yang baru ku kenali di dalam sembang yang panjang ketika dalam KTM itu untuk membantuku.
Indahnya bila terbinanya ikatan ukhuwwah. Aku jadi teringat akan Wasiat Luqman Al Hakim yang Bijaksana kepada anaknya sebelum dia meninggal dunia, pesannya , "Wahai anakku bina lah rumah mu di seluruh pelosok dunia"
maksudnya : bina lah ukhuwwah dengan orang yang layak dibuat sahabat, maka nanti rumahnya akan menjadi seperti rumahmu juga). Wallahualam.
Aku bosan dalam train -> Tegur orang sebelah -> Borak tentang TED Ex, aktivisme, ekonomi, Sejarah, Politik, Sosiologi dan tempat tempat menarik di UK (kerana si dia mahasiswa UK) -> Bertukar FB & berpisah di KL Sentral -> Nak call kawan supaya ambil di Gombak tapi bateri HP mati -> Tawakal yang terlalu -> Terserempak semula dengan si dia -> Minta pinjam HP -> Masalah selesai.
Mungkin inilah penangan dari bacaan buku Abbas As Sisi, At-Thariq ilal Quluub (Bagaimana Menyentuh Hati) yang cukup hebat itu. Selepas membacanya, aku pun mula beranikan diri, ceriakan diri untuk menegur orang walau siapa pun dia, walau di mana pun kami bertemu.
Dan alhamdulillah bila berdepan masalah pada kali ini, Allah titipkan orang yang baru ku kenali di dalam sembang yang panjang ketika dalam KTM itu untuk membantuku.
Indahnya bila terbinanya ikatan ukhuwwah. Aku jadi teringat akan Wasiat Luqman Al Hakim yang Bijaksana kepada anaknya sebelum dia meninggal dunia, pesannya , "Wahai anakku bina lah rumah mu di seluruh pelosok dunia"
maksudnya : bina lah ukhuwwah dengan orang yang layak dibuat sahabat, maka nanti rumahnya akan menjadi seperti rumahmu juga). Wallahualam.
Subscribe to:
Posts (Atom)




























